KHILAFAH: AJARAN ISLAM YANG WAJIB DIAJARKAN, BUKAN DIHAPUSKAN!


"Setiap muslim adalah penjaga atas setiap benteng-benteng pertahanan Islam"

الحمدلله رب العالمين والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وأصحابه أجمعين وبعد

Bertolak dari adanya keprihatinan atas upaya-upaya buruk stigmatisasi negatif dan desakralisasi ajaran Islam, KHILAFAH dan JIHAD, maka perlu saya tegaskan beberapa poin berikut ini sebagai bentuk al-amr bi al-ma'ruf wa al-nahy 'an al-mungkar (nasihat dan peringatan):

Pertama, KHILAFAH dan JIHAD takkan pernah bisa dihapus dari khazanah kaum Muslim, mengingat ajaran tentang keduanya TERSURAT dan TERSIRAT dalam al-Qur'an dan al-Sunnah, diuraikan para ulama dalam turats mereka, jelas dan terang benderang, tidak ada kesamaran bagi mereka yang menggunakan akal sehatnya;

Kedua, SK dari lembaga manapun, di negeri manapun di bumi ini, bukanlah dalil syar'i untuk menasakh nas-nas al-Qur'an dan al-Sunnah yang berbicara tentang KHILAFAH dan JIHAD, tidak ada dasarnya, bahkan, dalam bangunan disiplin ilmu ushul fikih, tidak ada yang namanya SK lembaga ini dan itu menjadi dalil penasakh ajaran al-Qur'an dan al-Sunnah, serta ijma' sahabat. Artinya, perbuatan buruk mereka tertolak (mardud), bahkan wajib ditolak syar'an wa 'aqlan, tidak bernilai sama sekali. 

Dalam ilmu ushul fikih jelas, ushul al-syari'ah mencakup ijma' sahabat, Imam Muhammad bin Idris Al-Syafi’i (w. 204 H) menegaskan:

أَنَّ لَيْسَ لاَحَدٍ أَبَدًا أَنْ يَقُوْلَ فِي شَئْ حلّ وَ لاَ حَرَم إِلاَّ مِنْ جِهَةِ الْعِلْمِ وَجِهَةُ الْعِلْمِ الخَبَرُ فِي الْكِتَابِ أَوْ السُّنَةِ أَوْ الإِجْمَاعِ أَوْ الْقِيَاسِ
Seseorang tidak boleh menyatakan selama-lamanya suatu perkara itu halal dan haram kecuali didasarkan pada ilmu. Ilmu yang dimaksud adalah informasi dari al-Kitab (al-Quran), al-Sunnah, Ijma’ atau Qiyas. (Abu Abdullah Muhammad bin Idris al-Syafi’i, Al-Risâlah, Ed: Rif’at Fauzi, Mesir: Dar al-Wafa’, cet. I, 1422 H/2001, hlm. 16) 

Dan salah satu dalil kokoh wajibnya menegakkan Khilafah adalah IJMA' SAHABAT, dimana hal ini ditegaskan para ulama ahlus sunnah wal jama'ah (aswaja):

Imam al-Khaththabi (w. 388 H) setelah menyebutkan dalil ijma’ sahabat ini menegaskan kewajiban menegakkan Khilafah dengan bahasa sharîh, sangat jelas, tidak samar bagi mereka yang berakal dan masih jeli pandangan matanya, al-Khaththabi menegaskan:
وذلك من أدل الدليل على وجوب الخلافة وأنه لا بد للناس من إمام يقوم بأمر الناس ويمضي فيهم أحكام الله ويردعهم عن الشر ويمنعهم من التظالم والتفاسد
"Dan dalil tersebut (ijma’ sahabat) merupakan sejelas-jelasnya dalil atas wajibnya menegakkan al-Khilafah dan bahwa harus ada seorang Imam (Khalifah-pen.) bagi masyarakat yang berdiri memerintah masyarakat, mengatur mereka dengan hukum-hukum Allah, menjauhkan mereka dari keburukan, menghalangi mereka dari perbuatan saling menzhalimi dan saling merusak." (Abu Sulaiman al-Khaththabi, Ma’âlim al-Sunan, Halb: Al-Mathba’ah al-‘Ilmiyyah, cet. I. 1351 H, juz III, hlm. 6)

Al-Qadhi Abu Ya’la al-Farra al-Hanbali (w. 458 H) ketika mengomentari peristiwa bersejarah diskusi alot antara tokoh-tokoh Kaum Anshar dan Kaum Muhajirin mengurusi Khilafah, hingga menunda pemakaman jenazah al-Mushthafa Muhammad ﷺ menegaskan:
فلولا أن الإمامة واجبة لما ساغت تلك المحاورة والمناظرة عليها  
“Jika seandainya al-Imamah (al-Khilafah) itu tidak wajib, maka takkan berlangsung diskusi alot tersebut dan perdebatan tentangnya.” (Muhammad bin al-Husain Abu Ya’la al-Farra, Al-Ahkâm al-Sulthâniyyah li al-Farra’, Beirut: Dâr al-Kutub al-‘Ilmiyyah, cet. II, 1421 H, juz I, hlm. 19)

Syaikhul Islam al-Imam Ibn Hajar al-Haitami al-Syafi'i (w. 974 H) menegaskan:

أَنَّ الصَّحَابَةَ رِضْوَانُ اللهِ عَلَيْهِمْ أَجْمَعُوْا عَلَى أَنَّ نَصْبَ اْلإِمَامِ بَعْدَ اِنْقِرَاضِ زَمَنِ النُّبُوَّةِ وَاجِبٌ، بَلْ جَعَلُوْهُ أَهَمَّ الْوَاجِبَاتِ حَيْثُ اِشْتَغَلُّوْا بِهِ عَنْ دَفْنِ رَسُوْلِ اللهِ ﷺ.
"Sungguh para sahabat -semoga Allah meridhai mereka- telah bersepakat bahwa mengangkat seorang imam (khalifah) setelah zaman kenabian berakhir adalah wajib. Bahkan mereka menjadikan upaya mengangkat imam/khalifah sebagai (salah satu) kewajiban paling penting. Faktanya, mereka lebih menyibukkan diri dengan kewajiban ini dengan menunda (sementara) kewajiban menguburkan jenazah Rasulullah ﷺ." (Ahmad bin Muhammad bin Ali bin Hajar Al-Haitami, Al-Shawâ’iq al-Muhriqah ‘ala Ahl al-Rafdh wa al-Dhalâl wa al-Zindiqah, Beirut: Mu’assasat al-Risalah, cet. I, 1417 H, hlm. 7)   

Begitu pula menyoal jihad fi sabiliLlah (berikut qawa'id dan dhawabith-nya (prinsip-prinsip dasar), yang jelas dasarnya dari nas al-Qur'an dan al-Sunnah.

Ketiga, Bertolak dari kejelasan dasar keilmuan di atas, maka desakralisasi dan framing buruk atas ajaran KHILAFAH dan JIHAD dalam Islam, hingga dikerdilkan/dihapuskan dalam kurikulum pendidikan Islam, termasuk bentuk kemungkaran, maka para pelakunya wajib bertaubat dengan taubat nashuha, mengingat KHILAFAH dan JIHAD, jelas termasuk ajaran Islam, dijabarkan para ulama mu'tabar dalam turats mereka, didasarkan pada ushul al-syari'ah: nas al-Qur'an, al-Sunnah serta ijma' sahabat;

Keempat, Kaum Muslim wajib menjaga ajaran Islam dari berbagai upaya stigmatisasi negatif dan desakralisasi ajaran Islam, Allah 'Azza wa Jalla berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ تَنْصُرُوا اللَّهَ يَنْصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ 
“Wahai orang-orang yang beriman jika kalian menolong (Din) Allah, maka Dia akan menolong kalian dan meneguhkan kedudukan kalian.” (QS. Muhammad [47]: 7)

Generasi agung umat ini adalah generasi pejuang dan pembela Islam yang berkorban demi tegaknya panji kebenaran di Bumi Allah, menebarkan rahmat Allah bagi alam semesta dengan tegaknya Din-Nya dalam kehidupan. Ya ikhwah! Jangan lengah! Jangan mundur walau pun hanya selangkah!

Imam al-Marwazi (w. 294 H) dalam al-Sunnah mengetengahkan nasihat Imam al-Awza'i:

مَا مِنْ مُسْلِمٍ إِلَّا وَهُوَ قَائِمٌ عَلَى ثَغْرَةٍ مِنْ ثُغَرِ الْإِسْلَامِ، فَمَنِ اسْتَطَاعَ أَلَّا يُؤْتَى الْإِسْلَامُ مِنْ ثَغْرَتِهِ فَلْيَفْعَلْ
"Tidaklah setiap muslim itu, kecuali ia harus berdiri di depan benteng pertahanan dari benteng-benteng pertahanan Islam, maka siapa saja yang mampu agar Islam tidak (dihancurkan) datang dari arah bentengnya, maka lakukanlah!"

Lantas, bagaimana sikap kita? Kita sebagaimana dituturkan sya’ir:

نبني كما كانت أوائلنا * تبني، ونفعل مثل ما فعلوا
“Kami membangun sebagaimana generasi pendahulu kami membangun”*“Dan kami berbuat sebagaimana mereka telah berbuat.” (Jalaluddin al-Suyuthi, Al-Asybâh wa al-Nazhâ’ir, Beirut: Dâr al-Kutub al-‘Ilmiyyah, cet. I, 1411 H, juz I, hlm. 6)

Irfan Abu Naveed, M.Pd.I
Praktisi Pendidikan Formal & Non Formal, Penulis Buku "Konsep Baku Khilafah Islamiyyah"

Posting Komentar

[blogger]

MKRdezign

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget