RASULULLAH DIHINAKAN, AJARAN ISLAM DIPERSOALKAN, DIAM ATAU LAWAN?


Di bulan Maulid ini, kita mendengar gema shalawat dimana-mana. Hal itu adalah salah satu bentuk ungkapan cinta kepada Nabi SAW. Banyak hadits yang menceritakan tentang keutamaan shalawat. Bahkan Allah dan para malaikat pun bershalawat kepada Nabi SAW.

Ø¥ِÙ†َّ اللَّÙ‡َ ÙˆَÙ…َÙ„َائِÙƒَتَÙ‡ُ ÙŠُصَÙ„ُّونَ عَÙ„َÙ‰ النَّبِÙŠِّ ۚ ÙŠَا Ø£َÙŠُّÙ‡َا الَّØ°ِينَ آمَÙ†ُوا صَÙ„ُّوا عَÙ„َÙŠْÙ‡ِ ÙˆَسَÙ„ِّÙ…ُوا تَسْÙ„ِيمًا

“Sesungguhnya Allah dan malaikat - malaikatNya bershalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kalian untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.” [Al-Ahzaab: 56]

Jika orang yang bershalawat saja dicintai oleh Nabi SAW, apalagi orang yang betul-betul taat, menjalankan semua ajaran dari beliau.

Sayangnya, di tengah suasana kecintaan tersebut, ada saja orang yang melakukan penghinaan terhadap Nabi SAW. Membandingkan beliau dengan manusia lainnya. Padahal Nabi Muhammad SAW adalah manusia yang paling sempurna.

Namun, ketika kaum muslim marah terhadap penghinaan tersebut, ada saja yang beranggapan kaum muslim terlalu emosional, atau dikatakan bersumbu pendek. Padahal justru mereka yang melakukan penghinaan tersebut dan pendukungnya itulah yang sumbu pendek, atau mungkin tak punya sumbu.

Jika seorang Presiden saja tidak boleh dihina dan direndahkan, apalagi Nabi SAW yang mulia. Allah saja sangat menggagungkan beliau. Apalagi seharusnya kita sebagai manusia.

***
Kita harus melakukan pembelaan terhadap agama. Cara membela agama adalah dengan menegakkan ajaran agama itu. Jika tidak maka penghinaan akan selalu terjadi. Dan cara untuk menghentikan penghinaan tidak lain adalah dengan diberi hukuman.

Mengapa ada orang yang berani menghina Nabi SAW? Karena dalam kejadian sebelumnya (terkait konde dan kidung), dia tidak diberi hukuman. Andai saat itu diberikan hukuman, mungkin akan menimbulkan efek jera.

Lantas ada yang berpendapat, bukankah Indonesia bukan negara agama? Ya, Indonesia memang bukan negara agama, tapi juga bukan negara yang boleh merusak agama. Jika penghinaan itu terus dibiarkan artinya negara kita adalah negara perusak agama.

Semestinya, Menteri Agama segera bertindak. Setidaknya memberikan komentar. Namun anehnya dalam kasus ini ini dia menahan untuk berkomentar karena takut salah. Padahal dulu dia mengomentari tentang celana cingkrang, cadar dan sebagainya, tanpa merasa takut salah. Bahkan berkomentar ada ayat yang memecah belah. Lantas kenapa sekarang malah diam? Mestinya Mentri yang paling berkepentingan dalam hal ini adalah Menteri Agama. Jika Menteri Agama saja diam, apalagi yang lain.

Presiden kita juga tidak memberi komentar terkait hal ini. Publik bisa menilai bagaimana perhatiannya. Pada dasarnya perhatian seseorang itu tergantung dari apa yang dianggapnya penting. Jika dianggap tidak penting, maka dia tidak akan memberi perhatian. Dan akhirnya dia juga tidak akan memberikan komentar.

Itu artinya penghinaan ini dianggap bukanlah sesuatu yang penting, sehingga tidak ada perhatian terhadapnya. Nampaknya urusan tol lebih penting dibandingkan kehormatan Nabi. Selalu berbicara tentang infrastruktur. Bukan berarti infrastruktur tidak penting. Tapi ini ada sesuatu yang harusnya diperhatikan.

Ketika dirinya dihina, dia marah. Lalu mengapa tidak marah saat Nabinya dihina. Andai Presiden berkata, stop penghinaan Nabi! Mungkin akan memberikan efek yang sangat kuat, penegak hukum segera mengambil tindakan.

***
Terkait dengan kondisi saat ini, Islam justru yang sering dianggap sebagai sumber masalah. Ini terkait bagaimana kita merekonstruksi sebuah masalah. Lalu mencari apa yang menjadi akar masalahnya. Ini memerlukan sebuah kerangka berpikir yang benar.

Ibarat dokter, harusnya dia melakukan diagnosis dengan benar untuk melakukan terapi. Ketika salah diagnosis, maka salah pula tindakan yang diberikannya. Harusnya begitu cara menilai suatu masalah. Dilihat kejadiannya apa? Penyebabnya apa? Tidak boleh lantas ujug-ujug Islam yang disalahkan, walaupun dengan topeng radikalisme.

***
Lantas apa yang dituntut terhadap umat?

Pertama, kita tidak boleh tidak peduli. Tanda kita sebagai umat Islam adalah kita peduli terhadap Islam. Sebagaimana dikatakan dalam Hadits, bahwa siapa saja yang bangun di pagi hari, dan dia tidak punya keprihatinan (kepedulian terhadap kaum muslimin), maka orang seperti ini bukanlah bagian dari kaum muslimin.

Jadi kalau kita merasakan kepala pusing, pilek, batuk, harusnya seluruh tubuh merasa sakit. Mulut pun akan menyeringai menahan sakit. Namun jika mulut tersebut tertawa terbahak-bahak, maka perlu dipertanyakan apakah dia bagian dari tubuh ini? Atau mulut orang lain? 

Begitulah seharusnya seorang muslim, punya kepedulian terhadap masalah umat. Siapapun dirinya. Jangan malah jadi faktor yang menimbulkan pertentangan di tengah umat.

Kedua, kita memberikan kontribusi (peranan) sampai titik batas kemampuan untuk menegakkan izzul Islam wal muslimin. Nilai kita di hadapan Allah adalah seberapa besar kepedulian kita terhadap agamaNya.

Ketiga, terkait penghinaan Nabi,  dalam Islam, hukumannnya adalah hukuman mati.

Intinya kita harus peduli dengan masalah umat. Kepedulian ini adalah cerminan kecintaan kita kepada Allah dan RasulNya. Jika kita tidak peduli, bagaimana nanti ketika kita ditanya, apa yang kita lakukan ketika ajaran Islam dan Rasul dihinakan? Maka kepedulian ini adalah sesuatu yang sangat penting untuk kita perhatikan. []

***
Ditulis oleh Pahriati.

Disarikan dari wawancara live streaming Ust. Ismail Yusanto di Fokus Khilafah Channel. https://youtu.be/aiqMqq-3wig.

Mohon maaf jika ada kekeliruan. Silakan dikoreksi dan dilengkapi. Semoga bermanfaat.

Ahad, memasuki 28 Rabiul Awwal 1441 H/24 November 2019

Posting Komentar

[blogger]

MKRdezign

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget