TERNYATA HTI BELUM DIBUBARKAN, MASIH HIDUP. ISTANA TUDING RADIKALISME DITUJUKAN KEPADA HTI


Oleh : Nasrudin Joha 


Setelah bingung membuat definisi radikalisme, setelah bingung mencari alasan mengapa melarang celana cingkrang, melarang cadar, melarang anak kecil dipisah karena mahram, melarang ceramah mengandung ayat dan hadits sensitif, akhirnya rezim melalui jubirnya Fajroel Rahman buang badan, radikalisme itu menurut rezim ditujukan kepada HTI. Memang satu-satunya cara buang badan untuk menangkis kritikan publik itu ya salahkan HTI, kenapa ?

Pertama, HTI telah dicabut Badan Hukumnya. Tuduhan apapun kepada HTI tidak bisa dibantah oleh HTI karena tak memiliki representasi formil untuk menjawab dan mengklarifikasi semua tudingan rezim.

Bukan hanya soal radikalisme, Jika rezim menuduh Import cangkul karena HTI juga tak ada yang protes. HTI juga tidak bisa membantah, karena BHP nya telah dicabut rezim. 

Jadi, jurus buang badan untuk menghindari seluruh dakwah rakyat karena ketidakbecusan menyelenggarakan tata kelola pemerintahan ya ke HTI. Apapaun masalahnya, tuding saja HTI penyebabnya, selesai.

Kedua, menuding HTI itu akan cenderung mendapat pembenaran dari seluruh mitra rezim. Kalau yang disalahkan Menag ihwal larangan cadar dan celana cingkrang, tentu geng Fahrur Razi akan berang. 

Begitu yang disalahkan HTI, semua konco-konco dan geng rezim ikut tepuk tangan dan kipas-kipas karena cara buang badan model ini selain menyelamatkan rezim juga menyelamatkan Mahfud MD yang tak paham beda antara Muhrim dengan Mahram, menyelamatkan Yasona Laoly yang anaknya sedang diperiksa KPK sementara dirinya santer terlibat korupsi e KTP, menyelamatkan Tjahyo Kumolo yang tanpa ilmu meminta cadar dipakai dirumah, dst.

Jadi, aneh saja pernyataan Fajrol Rahman ini yang mengalamatkan narasi radikalisme ke HTI. Memangnya anggota HTI semua pakai celana cingkrang ? Muslimahnya memakai cadar ? UAS anggota HTI sehingga dilarang ceramah ayat dan hadits sensitif ?

Terus sebenarnya HTI itu masih hidup atau sudah mati sich ? Kalau sudah mati kenapa dipersoalkan terus ? Kalau  masih hidup kenapa tidak ditanya dulu sebelum dituding ?

Rezim itu sebenarnya takut sama HTI ? Atau berani ? Kenapa kalau berani, harus muter-muter menggunakan narasi radikalisme untuk menuding HTI ? Kenapa dulu tidak sebut, yang celana cingkrang dan HTI, keluar dari NKRI. Yang pake cadar dan HTI, Silahkan mundur dari PNS. Yang ceramah anggota HTI, Silahkan cari masjid sendiri untuk berdakwah. 

Apa sich hebatnya HTI ? Kenapa untuk menyebut HTI saja perlu muter-muter menggunakan istilah radikal radikul ? Apa Pemerintah tak punya argumen untuk menuding HTI ?

Ternyata disitulah letak masalahnya, HTI selama ini tidak pernah korupsi, tidak pernah terlibat kasus century, e KTP, difestasi freeport, semua itu kegiatan yang menyengsengsarakan, mengsengsarakan, menyengsemgsamgrantkan, menyengsarakan rakyat. Itu semua kelakuan rezim bukan kerjaan HTI.

Rezim ini yang telah menumpuk utang, bukan HTI. Rezim yang kebanyakan micin janji kartu ini dan itu, bukan HTI. Rezim yang menaikan premi BPJS, bukan HTI.

Disisi lain, HTI selalu konsisten membela umat dan memperjuangkan khilafah. HTI selalu konsisten membongkar pengkhianatan penguasa dan gerombolan rezim. Jadi wajar, kalau rezim tak punya argurmentasi berhadapan dengan HTI.

Juru bicara Presiden ini juga tak paham hukum, menuding HTI ormas terlarang dan telah divonis Mahkamah Agung. MA itu hanya menolak kasasi HTI terkait sengketa TUN bukan soal larang melarang. Tak ada satupun amat putusan pengadilan tata usaha negara, baik tingkat pertama, banding dan kasasi yang menyatakan HTI sebagai ormas terlarang. Fajroel ini ngerti hukum tidak sich ? Kenapa bisa jadi jubir istana ? Apa karena pintar menjilat saja ? 

Hehehe, ternyata rezim ini ketakutan benar pada HTI. Sudah dicabut BHP nya saja masih terus disebut-sebut. Kayak Ga move on saja. Ayolah, move on. Akui saja semua kegaduhan ini akibat ketidakbecusan rezim mengelola Pemerintahan. [].

Posting Komentar

[blogger]

MKRdezign

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget